Cacing merupakan hewan
yang bersifat parasit dalam tubuh inangnya. Tidak saja menginfeksi manusia, cacing juga bisa menyerang hewan kesayangan, antara lain anjing dan kucing.
Cacingan pada anjing atau kucing menjadi masalah kesehatan yang kerap dijumpai para
pemilik hewan kesayangan. Salah satu tanda umum anjingnya terkena cacingan terlihat dari bentuk fesesnya yang tidak normal, encer seperti terkena diare.
Selain itu, anjing yang terkena cacingan secara alami mengonsumsi rumput-rumput taman
yang tumbuh di halaman depan rumah.
Sangat merugikan
Cacing yang menyerang tubuh anjing sangat merugikan karena dapat mengganggu kesehatan hewan peliharaan.
Akibat yang ditimbulkan dari cacingan berupa kekurangan nutrisi serta anemia atau kurang darah.
Bahkan, akibat terburuk dari infeksi cacing bisa berujung kematian,
seperti pada kasus infeksi cacing jantung.
Pasalnya, cacing jenis ini menyerang jantung dan paru-paru anjing.
Anjing yang terinfeksi cacing bisa ditengarai dari fisik dan gerak-geriknya.
Ciri yang mudah dikenali adalah muntah. Feses anjing pun terlihat encer,
seperti terserang diare. Tidak jarang,
dalam feses tersebut terbawa cacing. Fisik anjing juga terlihat tidak sehat.
Meskipun demikian, gejala-gejala hewan terkena cacingan tidaklah sama, tergantung jenis cacing
yang menyerangnya. Pada umumnya, jenis cacing parasit yang kerap menyerang anjing di antaranya cacing gelang, cacing pita, cacing cambuk, cacing hati,
dan cacing tambang.
Beberapa jenis cacing beserta gejala dan penularannya.
![]() |
| Ragam jenis cacing yang sering menginfeksi anjing dan kucing |
Cacing gelang
Cacing yang sering menyerang anjing di antaranya jenis cacing gelang atau Toxocaracanis, Toxascarisleonina. Secara fisik, cacing ini berwarna putih dan bentuknya tampak seperti mi instan. Hewan parasit ini bisa tumbuh hingga mencapai panjang tubuh 17,5
cm.
Cacing gelang menyerang anjing melalui berbagai cara.
Salah satu penyebarannya adalah melalui induk anjing yang terinfeksi cacing dan menurunkannya ke anak-anaknya. Cacing ini bisa ditularkan ketika induk anjing sedang hamil.
Cacing yang biasa tinggal di dalam usus ini kemudian berpindah ke rahim dan menginfeksi janin yang ada di dalamnya. Akibatnya, ketika terlahir,
anak-anak anjing tersebut sudah diinfeksi oleh cacing yang berasal dari induknya. Selain itu, penularan cacing juga bisa melalui air susu induk anjing pada anak-anak yang disusuinya.
Gejala infeksi cacing gelang antara lain bisa diketahui dari encernya feses. Terkadang, cacing gelang bisa ditemukan pada feses atau muntahan hewan inang tersebut. Ciri berikutnya, bulu inang tampak kusam dan tidak sehat.
Gejala selanjutnya,
anjing atau kucing terkena diare dan muntah.
Perutnya terlihat kembung atau membengkak.
Disebabkan cacing bersifat parasit,
sari-sari makanan dalam saluran pencernaan hewan inang akan diisap. Akibatnya, anjing atau kucing yang
terjangkit cacingan akan mengalami kekurangan nutrisi sehingga pertumbuhannya terhambat.
Cacing pita
Ketika belum tumbuh dewasa, cacing pita berbentuk seperti biji beras. Tubuh cacing pita akan tumbuh semakin panjang, yang ditengarai dari bentuk tubuhnya
yang bersegmen-segmen atau beruas-ruas.
Panjang cacing
pita dewasa bisa mencapai lebih dari 4,5 m. Setiap ruas tubuhnya memiliki sistem pencernaan dan reproduksi sendiri.
Gejala hewan yang terinfeksi cacing pita hampir sama dengan cacing gelang,
misalnya muntah.
Anjing atau kucing akan tampak kurang sehat
dan terlihat kurus karena kurang nutrisi.
Cacing ini bisa ditemukan dalam keadaan masih hidup pada muntahan hewan inang atau dari feses
yang dikeluarkannya. Terkadang, cacing pita juga terlihat
di daerah sekitar anus hewan inang atau tempat tidurnya.
Penyebaran cacing pita bisa terjadi karena anjing atau kucing memakan kutu
yang terinfeksi cacing pita. Ketika sudah
di dalam saluran pencernaan hewan inang,
benih cacing tersebut akan tumbuh dan berkembang.
Cacing tambang
Infeksi cacing tambang Ancylostomacaninum, A. braziliense, Ucinaria stenocephala bisa fatal
karena bisa berujung pada kematian anjing atau kucing.
Meskipun demikian,
gejala infeksi cacing ini terkadang tidak bisa melalui pengamatan kotoran atau muntahan anjing, kecuali melalui pemeriksaan laboratorium.
Gejala umum infeksi cacing tambang antara lain diare dengan feses yang terkadang berdarah atau berwarna gelap.
Infeksi cacing ini juga bisa diketahui dengan adanya ruam pada
kaki hewan inang. Selain itu, pertumbuhan hewan akan terhambat karena anemia dan kekurangan gizi. Hewan akan tampak lesu dan kekurangan tenaga. Ciri lainnya, gusi anjing atau kucing akan tampak kusam dan terdapat iritasi pada kulitnya.
Seperti halnya cacing gelang, cacing tambang bisa ditularkan dari induk pada janinnya atau anaknya melalui pemberian air susu. Penularan bisa juga terjadi karena kontak dengan binatang
lain yang sudah terinfeksi cacing tambang. Selain itu, cacing tambang menginfeksi hewan inang melalui kulit. Selanjutnya, dari kulit mereka akan berpindah menuju paru-paru hewan
yang terinfeksi.
Cacing cambuk
Cacing cambuk atau Trichuris vulpis
disebut juga cacing pipih karena bentuk tubuhnya
yang pipih menyerupai cambuk. Cacing ini tidak mudah dilihat dengan mata telanjang.
Dengan demikian,
pemeriksaan feses melalui mikroskop perlu dilakukan untuk memastikan adanya infeksi pada hewan peliharaan.
Meskipun demikian, infeksi cacing cambuk dapat menyebabkan hewan peliharaan mengalami penurunan berat badan, diare, lesu atau kurang tenaga,
anemia, dan perut kembung. Selin itu, pada fesesnya dijumpai lendir atau darah.
Cacing cambuk dapat ditularkan dari induk yang terinfeksi pada anak-anaknya, bisa melalui rahim ke janinnya atau pun melalui
air susunya. Selain itu, penyebarannya juga karena hewan peliharaan melakukan kontak dengan binatang lain yang sudah terinfeksi cacing tersebut.
Cacing hati
Cacing hati atau Diflofilaria immitis tidak dapat diamati dengan mata telanjang. Akibatnya, untuk memastikan infeksinya diperlukan pengujian darah
di laboratorium.
Penyebaran cacing hati melalui kulit.
Penyebarannya ditengarai melalui hewan vektor berupa nyamuk malaria, yang
sebelumnya mengisap darah anjing yang terinfeksi cacing jantung. Ketika mengisap darah, nyamuk akan memindahkan mikrofilaria pada
anjing atau kucing yang masih sehat. Mikrofilaria tersebut akan tumbuh menjadi cacing hati
di dalam tubuh hewan
yang baru.
Gejala infeksi cacing hati pada hewan peliharaan pada awalnya tidak mudah diamati.
Ketika infeksi sudah berlangsung selama
9 bulan, cacing hati sudah berukuran dewasa dan gejala infeksi baru bisa dikenali. Beberapa gejalanya antara
lain perut hewan inang
membengkak, mengalami kesulitan bernapas,
bulu tampak kusam,
serta penurunan berat badan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar